Warisan

Mutiara Indonesia jauh sebelum ada industrinya

Perairan nusantara sudah memasok mutiara ke dunia berabad-abad sebelum kata budidaya dikenal. Sebagian tonggaknya tercatat justru oleh orang luar yang kebetulan lewat.

Sebelum catatan Eropa

Orang Bugis dan Makassar dikenal menyelam mengambil tiram mutiara dari kedalaman Laut Sulawesi. Pada abad ke-14 Kerajaan Majapahit menyebarkan mutiara nusantara melalui jalur dagang maritimnya, dipakai pada regalia kerajaan dan diberikan sebagai penghormatan kepada pejabat asing. Ketika VOC tiba pada abad ke-16, monopoli dagangnya ditentang para penyelam dan pedagang mutiara setempat.

Dobo, dan nama yang melekat

Kota Dobo di Kepulauan Aru menjadi pusat perdagangan mutiara, dan butiran putih keperakan dari perairan itu dikenal di pasar Eropa sebagai mutiara Dobo. Dari sanalah sebutan Mutiara Laut Selatan Indonesia berasal.

Tonggak
Abad ke-19

Dobo di Kepulauan Aru tumbuh menjadi pusat perdagangan mutiara. Butiran putih keperakan dari perairan itu dikenal di pasar Eropa dengan sebutan mutiara Dobo.

1857

Naturalis Alfred Wallace singgah di Dobo dan mendapati ratusan orang dari berbagai bangsa tinggal di sana, datang mengadu peruntungan pada tiram mutiara.

1885

Anna Forbes mencatat gundukan tiram mutiara yang dihitung dan disusun di Dobo sebelum dibawa ke Makassar, lalu ke Eropa. Menurutnya, mutiara Aru adalah yang termahal di pasar Eropa.

1928

Percobaan budidaya mutiara pertama di luar Jepang dijalankan di perairan Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, hasil kerja sama Mitsubishi dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

1939

Mutiara hasil Buton dipamerkan di World’s Fair New York. Ukurannya mengejutkan para ahli perhiasan, padahal Jepang sendiri saat itu baru menghasilkan Akoya yang jauh lebih kecil.

1971

Pemerintah Indonesia resmi mendukung pengembangan budidaya mutiara laut sebagai salah satu upaya diversifikasi ekonomi.

2005

Indonesia menjadi produsen mutiara laut selatan terbesar di dunia, memasok sekitar 43 persen kebutuhan global.

Dan kejatuhannya

Sejak 1994 nilai perdagangan mutiara Indonesia menurun tajam. Persaingan dari negara lain menekan harga, kerusakan terumbu karang dan pencemaran menekan produksi. Pukulan terberat datang dari krisis Lehman 2008, yang menjatuhkan nilai perdagangan sekitar 70 persen dan menutup banyak usaha. Yang bertahan adalah perusahaan yang mampu beradaptasi, dan merekalah yang sebagian besar tercatat sebagai anggota hari ini.

Disarikan dari ketiga dokumen sumber ASBUMI. Ketiganya masih berstatus draf dan pada beberapa angka saling berbeda.