Budidaya Mutiara

Budidaya mutiara di Indonesia dimulai oleh Dr. M. Fujita tahun 1921 (Chan A.R. 1949. Pearl Culture in Japan. Ditulisan bahasa Indonesia ditulis sebagai Dr. Sukeyo Fujita ada yang Dr. Fukeyo Sujita) di Buton Sulawesi Tenggara, menggunakan tiram Mutiara Pinctada maxima yang didatangkan dari perairan laut Arafura (Dobo Maluku Tenggara).
Pada tahun 1985 teknologi pembenihan Pinctada maxima ditemukan oleh Cogent Pearl di Lampung (Teluk Hurun) dan Maprodin di Banda Neira. Mulailah era baru budidaya Mutiara paket lengkap mulai dari
hatchery, pendederan, pembesaran sampai memanen hasilnya. Pembenihan secara buatan ini kemudian dilakukan oleh beberapa perusahaan ataupun Balai Budidaya Laut sejak tahun 1991. Spat yang dihasilkan dari hatchery lebih disukai oleh pengusaha budidaya mutiara karena ukurannya relatif sama sehingga waktu pembudidayaan dapat dilakukan bersamaan dalam jumlah yang besar.
Indonesia sebagai salah satu produsen mutiara dunia patut dibanggakan, terutama karena mutiara yang diproduksi merupakan jenis south sea pearl. Mutiara jenis ini hanya dihasilkan dari kerang jenis Pinctada maxima dan merupakan jenis mutiara termahal di dunia.
Tiram mutiara (Pinctada maxima) merupakan salah satu komoditas dari sektor kelautan yang bernilai ekonomis tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa yang akan datang. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya peminat perhiasan mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Potensi mutiara dari Indonesia yang diperdagangkan di pasar dunia sangat berpotensi
untuk ditingkatkan. Sumber daya kelautan Indonesia masih memungkinkan untuk dikembangkan, baik dilihat dari ketersediaan areal budidaya, tenaga kerja yang dibutuhkan, maupun kebutuhan akan peralatan pendukung budidaya mutiara.
Ekosistem Budidaya Mutiara
Budidaya mutiara adalah budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dan biasanya berada didaerah terpencil, meningkatkan ekonomi bagi masyarakat yang sulit dijangkau serta menciptakan terumbu karang buatan yang membantu mata pencaharian biota laut lainnya.
Pinctada Maxima jenis kerang mutiara yang dibudidayakan di Indonesia dalam pertumbuhan kerangnya membutuhkan fitoplankton sebagai sumber gizi bagi kerang, dimana fitoplankton tumbuh kembang dengan mendapatkan nutrisi tidak hanya di perairan laut sekitar budidaya tetapi juga dari gunung dan sungai sekitarnya. Sehingga ekosistem sekitar perairan lokasi budidaya perlu dijaga dan dilindungi untuk kelangsungan usaha budidaya mutiara laut.
Posisi Perdagangan Mutiara Indonesia di Dunia
Keseimbangan supply dan demand mutiara tidak hanya tergantung dengan mutiara laut selatan saja (southsea pearl / SSP) tetapi juga berkaitan dengan supply jenis mutiara lain nya (Akoya (jepang); mutiara hitam (Tahiti);dan mutiara air tawar (Cina) dan perhiasan batu mulia (gems stone ; diamond, ruby etc; jewelry dan jam tangan mewah).
Produsen mutiara laut selatan (Southsea Pearl) dunia dengan ranking harga terbaik adalah Australia, Indonesia, Philipina dan Myanmar, posisi Indonesia walaupun sejak tahun 2015 menjadi produsen terbesar di dunia, dalam nilai harga masih dibawah SSP Australia.

Larva Tiram Mutiara

Anakan Tiram Mutiara

Budidaya Mutiara

Mutiara Laut Selatan
Proses Budidaya Mutiara

1. Proses Pemijahan
Induk yang digunakan merupakan induk hasil budidaya. Umur induk yang dipilih yaitu > 4 tahun, ukuran > 10 cm dan telah matang gonad.

2. Telur Kerang Mutiara
Umumnya setelah 30 menit pemijahan maka induk betina akan mengeluarkan telur, sejak sperma dimasukkan ke dalam wadah.

3. Benih/Larva Kerang Mutiara
Larva kerang usia 20 Hari

4. Pemeliharaan/Pembesaran Larva Kerang Mutiara
Larva berusia 45-60 hari yang telah menempel pada media tali kolektor.

5. Pemeliharaan/Pembesaran Kerang Mutiara
Kerang berusia 2-3 bulan yang telah siap untuk penjarangan kedalam pocket net.

6. Pemeliharaan/Pembesaran Kerang Mutiara
Kerang dengan usia 4-5 bulan, dilakukan pemeliharaan dengan media pocket net.

7. Pemeliharaan/Pembesaran Kerang Mutiara
Kerang berusia 7-9 bulan, pemeliharaan dengan media pocket net.

7 (a). INFO – Metode Budidaya Mutiara dengan Longline
Setelah proses pemeliharaan larva di kolektor, maka spat dipindahkan ke pocket. Pemeliharaan di keranjang (pocket) dilakukan dengan metode longline hingga tiram berukuran >10 cm (1-1,5 tahun).

8. Kerang Dewasa
Kerang size 9cm up, siap diseleksi untuk operasi penanaman inti Mutiara (insersi).

9. Proses Pengambilan Saibo
Sebelum operasi akan dipilih beberapa tiram mutiara yang mempunyai kualitas kulit (mother of pearl) terbaik dan sehat.

10. Proses Insersi
Tindakan operasi yang dilakukan adalah teknisi akan melakukan penyayatan/pemotongan tipis pada bagian tertentu. Kemudian pada bagian yang telah disayat tersebut teknisi akan memasukkan inti mutiara (nucleus) dimasukkan kedalam disertai dengan sepotong saibo,dan peletakannya harus bersentuhan dengan inti mutiara.

11. Positioning inti mutiara setelah insersi nukleus
Tiram yang baru selesai OP dimasukkan dalam keranjang dan diletakan dilaut kemudian dibolak-balik posisinya atau disebut Tento. Proses pembentukan inti/bakal mutiara terjadi karena respon biologis akibat adanya benda asing (nukleus) yang dimasukan ke dalam tubuh tiram. Akibat masuknya benda asing tersebut, tiram mengeluarkan cairan nacre (mother of pearls) yang melapisi nukleus dan akhirnya menghasilkan mutiara.

12. Pemeliharaan Kerang Mutiara Pasca Insersi
Pemeliharaan kerang dalam pocket net di laut, untuk menjadikan butiran mutiara yang baik dibutuhkan waktu hampir 2 (dua) tahun.

13. Proses Panen Mutiara
Panen mutiara dilakukan apabila usia pasca operasi telah diperkirakan memberikan pelapisan yang optimal. Pada saat teknisi melakukan panen mutiara, hasil mutiara akan diambil secara berhati-hati untuk memperkecil kematian kerang mutiara.

14. Hasil Panen Mutiara
Hasil yang didapatkan pada saat panen Mutiara beragam, oleh karena itu beberapa karakteristik kualitas mutiara yang ditentukan dari :
Luster (Kilau)
Size (Ukuran)
Shape (Bentuk)
Colour (Warna)
